Empat Nasihat Hikmah dari Kitab-Kitab Samawi

Para ulama hikmah memilih empat kalimat mutiara yang berasal dari empat kitab samawi, yaitu Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an. Keempat kitab tersebut merupakan wahyu Allah yang diturunkan kepada para nabi sebelum dan sesudahnya untuk membimbing manusia menuju jalan yang benar. Al-Qur’an hadir sebagai penyempurna ajaran kitab-kitab sebelumnya sehingga tidak bertentangan dengan pokok-pokok ajaran tauhid yang telah dibawa para nabi terdahulu.

Dalam sejarah disebutkan bahwa pada lembar terakhir Kitab Taurat telah dijelaskan kabar akan datangnya Nabi Muhammad saw., yang lahir di Makkah, berhijrah ke Madinah, dan menjadi penutup para nabi. Hal ini menunjukkan bahwa kedatangan Rasulullah telah diberitakan jauh sebelum beliau dilahirkan. Demikian pula Al-Qur’an memuat berbagai berita tentang peristiwa yang akan terjadi di masa depan, seperti hari kiamat dan berbagai tanda kekuasaan Allah di alam semesta. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, banyak fakta ilmiah yang semakin membuktikan kebenaran isi Al-Qur’an.

Perubahan hukum dalam syariat juga merupakan bagian dari hikmah Allah. Dalam ilmu ushul fikih dikenal istilah nasakh dan mansukh, yaitu penggantian suatu hukum dengan hukum lain yang lebih sesuai dengan perkembangan kondisi umat. Perubahan tersebut bukan menunjukkan bahwa Allah berubah pendirian, melainkan sebagai bentuk kasih sayang-Nya dalam membimbing manusia secara bertahap. Contohnya adalah perubahan jumlah susuan yang menjadikan hubungan mahram, perubahan hukum puasa, serta perubahan hukum ziarah kubur yang pada awal Islam sempat dilarang kemudian dianjurkan ketika akidah umat telah kuat.

1. Hikmah dari Kitab Taurat: Ridha terhadap Ketentuan Allah

Nasihat pertama berbunyi:

“Barang siapa ridha terhadap apa yang diberikan Allah, maka ia akan memperoleh ketenangan di dunia dan akhirat.”

Ridha bukan sekadar menerima dengan ucapan, tetapi juga menerima dengan hati yang lapang. Sikap ini sangat berat, terutama ketika seseorang memperoleh rezeki yang sedikit atau menghadapi ujian hidup. Namun orang yang mampu bersikap qanaah akan merasakan ketenangan batin karena tidak terus-menerus membandingkan dirinya dengan orang lain.

Untuk menggambarkan keutamaan ridha, diceritakan kisah seorang anak yang bersedia merawat ayahnya hingga wafat, meskipun harus kehilangan hak warisan. Setelah ayahnya meninggal, ia memperoleh petunjuk melalui mimpi hingga akhirnya mendapatkan satu dinar yang dibelikan dua ekor ikan. Dari dalam ikan tersebut ditemukan sepasang mutiara yang nilainya jauh melebihi harta warisan. Kisah ini mengajarkan bahwa balasan Allah sering kali datang melalui jalan yang tidak disangka-sangka. Allah tidak selalu memberikan kenikmatan pada awal perjuangan, tetapi sering kali menghadiahkannya setelah seseorang bersabar dan ikhlas menjalani proses kehidupan.

2. Hikmah dari Kitab Injil: Mengendalikan Hawa Nafsu

Nasihat kedua berbunyi:

“Barang siapa mampu menundukkan hawa nafsunya, maka ia akan memperoleh kemuliaan di dunia dan akhirat.”

Hawa nafsu menjadi sumber berbagai kemaksiatan. Oleh karena itu, orang yang mampu mengendalikan keinginan yang dilarang Allah akan diangkat derajatnya. Imam Malik pernah berpesan kepada Imam Syafi’i bahwa beliau akan menjadi ulama besar selama mampu menjaga diri dari maksiat. Nasihat tersebut terbukti karena Imam Syafi’i tumbuh menjadi salah satu imam mazhab terbesar dalam Islam.

Diceritakan pula kisah Muhammad bin Yasar yang menolak godaan seorang wanita cantik demi menjaga kehormatan dirinya. Dalam mimpinya ia dipuji oleh Nabi Yusuf a.s., karena mampu menolak godaan tanpa sedikit pun menuruti hawa nafsu. Kisah ini mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang bukan diukur dari banyaknya ibadah semata, tetapi juga dari kemampuannya menjaga diri ketika menghadapi godaan.

Maksiat tidak hanya berupa dosa besar seperti zina atau minum khamar, tetapi segala bentuk pelanggaran terhadap larangan Allah, sekecil apa pun. Oleh sebab itu, seorang muslim harus terus melatih dirinya agar mampu meninggalkan kebiasaan buruk dan memperbanyak amal saleh.

3. Hikmah dari Kitab Zabur: Menjaga Diri dan Kehidupan Sosial

Nasihat ketiga berbunyi:

“Barang siapa mampu mengasingkan dirinya dari keburukan manusia, maka ia akan memperoleh keselamatan.”

Pada masa lalu, uzlah atau mengasingkan diri dilakukan oleh sebagian ulama untuk memperbanyak ibadah. Namun para ulama, termasuk Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari, menjelaskan bahwa pada zaman sekarang uzlah tidak selalu menjadi pilihan yang tepat. Umat justru membutuhkan kehadiran para ulama di tengah masyarakat untuk memberikan bimbingan dan mengajarkan ilmu agama.

Hakikat uzlah bukan membenci masyarakat, melainkan menghindarkan diri dari perbuatan yang dapat merusak orang lain. Seorang muslim tetap dianjurkan aktif berdakwah, menghadiri masjid, mengajar, dan bergaul dengan masyarakat selama mampu menjaga akhlaknya.

4. Hikmah dari Al-Qur’an: Menjaga Lisan

Nasihat terakhir berbunyi:

“Barang siapa menjaga lisannya, maka ia akan selamat di dunia dan akhirat.”

Lisan merupakan anggota tubuh yang paling mudah menjerumuskan manusia ke dalam dosa. Banyak kerusakan terjadi karena ucapan yang tidak dipikirkan terlebih dahulu, seperti ghibah, fitnah, adu domba, maupun menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya.

Rasulullah saw. menjelaskan bahwa pada dasarnya dusta adalah haram, namun terdapat beberapa keadaan yang dibolehkan demi kemaslahatan, seperti mendamaikan dua orang yang berselisih, menyelamatkan orang yang terancam dizalimi, dan menjaga keharmonisan hubungan suami istri dengan ucapan yang menyenangkan.

Seorang muslim juga harus berhati-hati ketika berbicara tentang agama. Apabila tidak mengetahui suatu hukum, lebih baik diam daripada memberikan jawaban yang keliru. Sebaliknya, orang yang memiliki ilmu wajib menyampaikan kebenaran dengan penuh tanggung jawab, sekalipun terasa berat.

Penutup

Empat hikmah dari kitab-kitab samawi tersebut mengajarkan nilai-nilai yang tetap relevan sepanjang zaman, yaitu:

  1. Ridha terhadap ketentuan Allah akan menghadirkan ketenangan hidup.
  2. Mengendalikan hawa nafsu akan mengangkat derajat manusia.
  3. Menjaga diri dari keburukan tanpa meninggalkan tanggung jawab sosial akan membawa keselamatan.
  4. Menjaga lisan merupakan kunci keselamatan dunia dan akhirat.

Apabila keempat ajaran tersebut diamalkan secara konsisten, seorang muslim akan memperoleh kebahagiaan, ketenangan, dan kemuliaan baik di dunia maupun di akhirat.

Penulis : Muhammad Fadhil, M.Pd

Scroll to Top