
Jombang – Dalam kajian keislaman yang berlangsung di Masjid Riyadlul Jannah, seorang ustadz menyampaikan pentingnya memahami hakikat ketaatan kepada Allah Swt. sebagai jalan utama meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Beliau menegaskan bahwa seluruh syariat yang ditetapkan Allah merupakan bentuk kasih sayang-Nya kepada hamba, bukan untuk memberatkan kehidupan manusia.
Dalam penyampaiannya, beliau menjelaskan bahwa Allah Swt. memiliki sifat jaiz, yaitu kewenangan mutlak untuk melakukan segala sesuatu yang sesuai dengan kehendak-Nya. Akan tetapi, Allah telah menetapkan janji-Nya kepada orang-orang yang beriman dan taat. Janji tersebut tidak akan pernah diingkari, sebagaimana firman Allah:
“Innallāha lā yukhliful mī‘ād”
“Sesungguhnya Allah tidak akan pernah mengingkari janji-Nya.”
Beliau mengutip penjelasan dalam Kitab Ummul Barāhin yang menerangkan bahwa kekuasaan Allah bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. Seandainya Allah menghendaki untuk mengubah seluruh aturan syariat, tentu hal itu berada dalam kekuasaan-Nya. Namun, Allah Yang Maha Bijaksana telah menetapkan syariat sebagai pedoman hidup manusia dan menjanjikan surga bagi mereka yang senantiasa menaati perintah-Nya.
Menurut beliau, manusia tidak sepantasnya memandang ibadah sebagai beban. Shalat, puasa, zakat, dan berbagai bentuk ketaatan lainnya merupakan nikmat sekaligus sarana mendekatkan diri kepada Allah. Bahkan, ketika seorang muslim melaksanakan shalat, sejatinya ia sedang menghadap langsung kepada Allah Swt.
Oleh karena itu, setelah menyelesaikan shalat, umat Islam dianjurkan memperbanyak istigfar dan doa sebagai bentuk pengakuan atas kekurangan dalam beribadah serta memohon ampunan kepada Allah.
Dalam kesempatan tersebut, beliau juga menjelaskan hadis mengenai golongan manusia yang akan masuk surga tanpa hisab. Rasulullah saw. mengabarkan adanya kelompok hamba Allah yang memperoleh kemuliaan tersebut karena keimanan, ketakwaan, dan ketergantungan mereka hanya kepada Allah. Namun, jumlah mereka telah ditentukan oleh Allah sesuai dengan kehendak-Nya.
Kajian kemudian berlanjut pada pembahasan mengenai tingkatan syahid dalam Islam. Beliau menjelaskan bahwa para ulama membagi syahid ke dalam beberapa kategori.
Tingkatan yang paling tinggi adalah syahid dunia dan akhirat, yaitu mereka yang gugur di medan perang saat membela agama Allah dengan niat yang ikhlas. Jenazah mereka memiliki hukum khusus dalam fikih, yaitu tidak dimandikan dan tidak dishalatkan, melainkan langsung dikafani dan dimakamkan.
Selain itu terdapat syahid akhirat, yakni orang-orang yang memperoleh pahala syahid karena sebab-sebab tertentu sebagaimana dijelaskan dalam hadis-hadis Nabi, meskipun tata cara pengurusan jenazahnya tetap seperti jenazah muslim pada umumnya, yaitu dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dimakamkan.
Beliau mengingatkan agar masyarakat tidak mudah menyimpulkan bahwa setiap korban kecelakaan atau musibah otomatis termasuk syahid dunia dan akhirat. Penetapan hukum tersebut memiliki syarat-syarat yang telah dijelaskan secara rinci oleh para ulama dalam kitab-kitab fikih, sehingga pengurusan jenazah harus tetap mengikuti ketentuan syariat.
Menutup pengajiannya, beliau mengajak seluruh jamaah untuk semakin memperkuat keimanan, menjaga shalat dengan khusyuk, memperbanyak amal saleh, dan senantiasa menaati perintah Allah. Ketaatan kepada Allah bukanlah sebuah beban, melainkan jalan yang akan mengantarkan seorang hamba kepada rahmat, ampunan, dan surga yang telah dijanjikan-Nya.
